Selasa, 03 Desember 2013

PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA



Enkulturasi adalah proses mempelajari dan menyesuaikan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini berlangsung sejak kecil, mulai dari lingkungan kecil (keluarga) ke lingkungan yang lebih besar (masyarakat).

Menurut J.W.M. Bakker, enkulturasi adalah latihan yang membuat seseorang individu dapat mengintegrasikan dirinya ke dalam kebudayaan setempat.

Contohnya : anak kecil menyesuaikan diri dengan waktu makan dan waktu minum secara teratur, mengenal ibu, ayah, dan anggota-anggota keluarganya, adat, dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam keluarganya, dan seterusnya sampai ke hal-hal di luar lingkup keluarga seperti norma, adat istiadat, serta hasil-hasil budaya masyarakat.

Menurut M.J.Herskovits perbedaan antara enculturation (enkulturasi) dengan socialization (sosialisasi) adalah sebagai berikut ;
1.         Enculturation (enkulturasi) adalah suatu proses bagi seorang baik secara sadar maupun tidak sadar, mempelajari seluruh kebudayaan masyarakat.
2.         Socialization (sosialisasi) adalah suatu  proses bagi seorang anak untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku dalam keluarganya.

Secara singkat perbedaan antara enkulturasi dan sosialisasi adalah dalam enkulturasi seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikirannya dengan lingkungan kebudayaannya, sedangkan sosialisaasi si individu melakukan proses penyesuaian diri dengan lingkungan sosial.

Sosialisasi adalah proses individu mulai menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur kebudayaan (adat – istiadat, perilaku, bahasa) yang dimulai dari lingkungan keluarganya, yang kemudian makin meluas. Sosialisasi berlangsung sejak masa kanak-kanak (bayi).

Menurut George Herbert Mead perkembangan manusia melalui sosialisasi dapat melalui tiga tahap yaitu :
1. Play stage : tahap dimana seorang anak mulai mengambil peranan orang-orang di sekitarnya.
2. Game stage : tahap dimana anak mulai mengetahui peranan yang harus dijalankan dan peranan yang dijalankan orang lain.\
3. Generalized other : tahap dimana seseorang telah mampu mengambil peranan-peranan yang dijalankan oleh orang lain.

Proses sosialisasi dalam setiap masyarakat juga dipakai sebagai sarana pembentukan kepribadian.

Menurut Allport, keptibadian adalah organisasi dinamis dari sistem psikofisis dalam individu yang turut menentukan cara-cara yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Empat faktor yang menentukan kepribadian :
1) Keturunan (warisan biologis).
2) Lingkungan geografis.
3) Lingkungan kebudayaan.
4) Lingkungan sosial.

Menurut Robert Dreeben bahwa proses sosialisasi di sekolah selain mendapat ketrampilan dan pengetahuan juga mendapat :

a. Kemandirian (independence).
b. Prestasi (achievment)
c. Spesifitas (specifity) – (hal-hal yg spesifik)

Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Contoh akulturasi: Saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya.

a.    Kesamaan dan perbedaan masa remaja
          Mendominasi pada pemikiran tentang kepribadian di budaya barat contohnya amerika serikat misalnya aktualisasi diri, kesadaran diri, konsep diri, keyakinan diri, penguatan diri, kritik diri, mementingkan diri sendiri, meragukan diri sendiri (Lonner, 1988). Sedangkan perbedaannya yaitu dalam budaya bukan barata seperti Negara timur china, jepang dan inidia. Bersifat kolektivistik ketimbang individualistik (Triandis, 1985, 1994). Individualistik adalah orientasi individu atau diri yang mencakup pemisahan diri dari orang lain sedangkan koletivistik menunjuk pada orientasi kelompok yang mencakup hubungan diri dari orang lain. Orientasi individualistik versus kolektivistik ditemukan sebagai dimensi dasar dari budaya alamiah (Hoftsede, 1980).
Contoh: Di Jepang sekolah menekankan orientasi kelompok dan keterhubungan dengan orang lain, ketimbang individualisme.
b. Konteks sosial dan masayarakat
Budaya pun perlu melalui konteks sosial dan masyarakat, karena melewati konteks  itulah budaya berkembang. 
Contohnya: orang Ambon dan orang Jawa yang berteman karena berada di lingkungan kostan yang sama dapat bersosialisasi baik meskipun adat jauh berbeda dan dapat saling memberi tahu informasi serta menjelaskan budaya mereka masing-masing.
Maka terkenal budaya di wilayah sunda. 
c.  Persamaan & perbedaan antar budaya dalam hal tranmisi budaya dalam hal individualisme dan kolektifisme
Persamaan:sama-sama mentransmisikan budaya
                   Perbedaan:Individualisme mementingkan kehendak pribadi. 
Kolektifisme adalah suatu lingkungan sosial tidak fleksibel yang membedakan antara in-group dan out-group. Orang memperhatikan kepada in-group mereka (rekan, golongan, organisasi) dan menjaga mereka.
d.  Persamaan & perbedaan antar budaya dalam hal tranmisi budaya dalam hal kognisi sosial
Perbedaan:sama-sama mentransmisikan budaya
                   Perbedaan:kognisi sosial adalah tata cara di mana kita menginterpretasi, menganalisa, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia sosial. Kognisi sosial dapat terjadi secara otomatis. 
Contonya,  saat kita melihat seseorang dari suatu ras tertentu, misalnya Ambon kita seringkali secara otomatis langsung berasumsi bahwa orang tersebut memiliki ciri/sifat tertentu pemarah atau tidak ramah karena kapasitas kognitif kita juga terbatas. Selain itu, terdapat suatu hubungan antara kognisi dan afeksi (bagaimana kita berpikir dan bagaimana kita merasa). Padahal setelah kita mengenal orang tersebut dengan baik ternyata orangnya dapat kita jadikan sebagai teman baik kita.





Daftar Pustaka :



Allport, W. Gordon.1945.The Psychology of Participation (dalam buku DRS.R.A.Santoso Sastropoetro) Bandung : Alumni.
Alwisol. 2006. Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Jakarta: UMM. 
Edward Hoffman. 1988. A Biography of Abraham Maslow. Los Angeles: Jeremy P. Tarcher. 
Wiryanto. (2004). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta:Grasindo
http://id.wikipedia.org/wiki/Kekuasaan
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/10/teori-kepemimpinan/


 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar